Thursday, April 24, 2008

Jangan komentari ide gila

Intelektual Muslim...
Beberapa waktu lalu, sebuah workshop yang membedah ide sekulerisme dan liberalisme dalam Islam digelar di Depok, Jawa Barat. Satu di antara pembicaranya adalah, Prof. DR. Mohd. Wan Daud Wan Anwar, Muslim Malaysia yang dikenal gigih membendung pemikiran liberal dan sekuler yang menyerbu kaum Muslim.

Prof. Wan, begitu ia akrab dipanggil, kini aktif mengajar di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di International Islamic University Malaysia (IIUM). Suaranya cukup lantang jika bicara soal gagasan sekulerisme dan liberalisme. Termasuk komentarnya tentang peristiwa Masdar F. Masudi, pimpinan gerakan Islam Emansipatoris yang menggagas haji bisa dilakukan tak hanya di bulan Dzulhijjah saja. “Gagasan-gagasan seperti ini tak perlu ditanggapi, ignore saja. Kalau dikomentari dia bisa jadi orang penting,” tuturnya.

Sebelum menyampaikan pikiran-pikirannya dalam workshop tersebut, Herry Nurdi dari SABILI sempat berbincang dengan Prof. DR. Mohammad Wan Daud Wan Anwar. Perbincangan kian seru ketika Adian Husaini yang sedang menuntaskan program PhD-nya di ISTAC-IIUM, turut bergabung dalam obrolan.

Menurut Prof. Wan, saat ini Barat begitu gencar mencoba menjebol pertahanan akidah kaum Muslim dari berbagai pintu, terutama sekulerisme dan liberalisme. Menurutnya, gerakan-gerakan seperti mempunyai target mengaburkan epistemologis atau menyarukan kebenaran Islam. “Jika sudah samar dan kabur, pikiran dan gagasan apa saja bisa diamalkan dan dihalalkan. Ini berbahaya,” tuturnya. Berikut petikan obrolannya:

Apa komentar Anda tentang gagasan haji yang dilontarkan Masdar F. Masudi?
Jangan dikomentari saja. Sebab kalau kita mengomentari hal yang gila, kita pun jadi gila. Kalau orang berkomentar, dia akhirnya menjadi penting. Publisitas akan memberikan market yang lebih besar untuk orang-orang seperti ini. Dia sudah menyalahi apa yang dikerjakan oleh Nabi Ibrahim. Bagaimana bisa orang mengaku lebih pintar dari para anbiya.

Di Singapura, ada seorang minister Muslim yang pernah mengusulkan puasa dipindah dari bulan Ramadhan ke Desember. Alasannya, esensi puasa adalah memerangi maksiat dan bulan paling banyak maksiat dan banyak yang bunuh diri di bulan Desember. Saya sampaikan, kalau Anda mau berpuasa di bulan Desember, silakan saja. Tapi itu bukan Ramadhan, kecuali kalau ditakdirkan Ramadhan jatuh pada bulan Desember. Tujuan puasa tidak saja melawan maksiat, tapi mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Begitu pula dengan haji yang mengikuti uswah Nabi Ibrahim. Dia ingin berhaji tidak pada bulan yang ditentukan karena mau mengelak dari kematian? Mereka hendak mengaburkan epistemologis Islam.

Kalau sudah kabur epistemologis, apapun bisa terjadi?
Ya. Kalau berdasarkan logika, mestinya kita shalat dzuhur tidak empat rakaat, karena waktu-waktu itu adalah jam sibuk. Dua rakaat lebih baik. Rakaat Subuh diganti Dzuhur. Lalu lama-lama, shalat hanya ritual saja, dan tidak diperlukan lagi, yang penting Allah. Jangan dikomentari hal-hal seperti ini, mereka akan menjadi selebriti. Memang akan ada orang-orang yang memberi fatwa mati, tapi itu hanya menjadikan dia terangkat. Tapi kalau kita diamkan, mereka akan mati sendiri.

Menurut Prof. Wan Daud, bagaimana perkembangan liberal thinker di kalangan Muslim Indonesia?
Dulu Pak Naquib (Muhammad Naquib al Attas, red) pernah ditanya, apa komentarnya tentang orang-orang yang memperolok hadis. Kalau masalah dipertajam, susah kita, lebih baik diamkan saja. Jangan baca bukunya. Jangan komentari pemikirannya. Kalau dikomentari, kita akan membuat kuman menjadi gajah.

Apa konsekuensinya kalau kuman menjadi gajah? Apa yang paling dirugikan?
Umat akan keliru tentang letak perkara yang sesungguhnya. Yang kecil dibesarkan, yang besar jadi tak tampak. Kita harus melawan yang besar, bukan yang kecil-kecil macam ini. Ha...ha...ha....

Akhir tahun 2003 lalu, sebuah lembaga survei di Indonesia menyatakan mayoritas Muslim Indonesia adalah Islam liberal, bagaimana menurut Anda?
Kita tengok dulu, apa yang dimaksud dengan makna liberal itu sendiri. Jadi kalau liberal dari segi tertentu, maka semua muslim itu liberal.

Misalnya?
Umat Islam umumnya tidak merusak hak-hak orang lain. Di Turki, Irak, hatta di Arab Saudi pun liberal, tidak mengacak hak-hak non muslim. Jadi kalau makna liberal itu menjadi longgar, ini yang jadi liberal.

Bahkan Yusuf Qaradhawi masuk dalam daftar Muslim liberal?
Kalau definisi itu menjadi kabur, maka bukan definisi lagi namanya. Definisi itu harus mengikat, jadi kalau semuanya liberal sudah tak bermakna, maka liberal tadi sudah bukan definisi lagi. Apa itu gajah, kucing, anjing? Gajah itu yang ada belalai, tinggi, besar. Maka beda dengan anjing. Sekarang apa definisi hewan? Tentu lain lagi, dia mahluk yang hidup dan bergerak.

Sekulerisasi dan liberalisasi ada di semua agama. Apakah ini memang sebuah keharusan sejarah?
Islam juga boleh menerima beberapa aspek liberal dan sekulerisasi.Tapi kita tdiak setuju dengan banyak aspek yang lainnya. Kalau makna sekulerisasi itu membebaskan manusia dari tahayul, hal-hal yang tidak rasional, Islam menerima hal itu. Tapi aspek lainnya dalam paham liberal tidak hanya menghapus yang tahayul, tapi juga menolak hal-hal yang supra-rasional, seperti Tuhan. Ekstrem sekulerisasi itu yang kita tolak. Kita jadi umat wasathan yang mutlak. Berada di tengah-tengah. Orang-orang Barat tidak punya undang-undang yang mengontrol itu semua. Bible sudah tak bermakna bagi mereka.

Kenapa mereka tak bisa menjadi bible sebagai rujukan?
Mereka tahu bahwa bible bukan lagi firman tuhan. Sebetulnya, itu adalah masalah mereka sendiri. Jangan pula ditularkan kepada kita. Mengapa harus menyalakan lilin kalau kita punya matahari. Lilin memang lampu dan bercahaya, tapi tak tak terang dan tak bisa lama. Sedangkan al Qur’an itu lebih sempurna.



Directions:
Gerakan pengaburan epistomologi ini terstruktur dan teragenda?
Ya, pihak yang mendominasi itu yang akan memarakkan paham. Itu biasa. Dia tunggangi teknologi, militer dan media.

Dalam konteks ini, kekuatan dominasi itu Amerika atau ada kekuatan lain?
Barat bukan Amerika saja. Dia sebuah fikrah campuran dari ideologi dan kebudayaan yang mencakup Romawi, Yunani, Judeo, Kristiani. Itu semua adalah Barat.

Kalau dikaitkan dengan teorinya Huntington tentang permanen confrontation, bagaimana posisi Islam dan Barat?
Islamisasi ini mempunyai sedikit kesamaan dengan sekulerisasi dan liberalisasi, sebagai proses bukan sebagai ideologi. Sudah banyak orang memahami Islam sebagai din wa daulah. Kita tidak mengenal daulah di luar din. Agama itulah daulah. Islam akan menuju ke arah sana. Di berbagai tempat di Barat, ada macam-macam yang menonjol. Kadang Yahudinya, atau Kristennya, atau Yunani atau Romawi. Tapi kalau soal menentang Islam, mereka bersatu dan merapatkan barisan.

Siapa yang dominan menguasai gerakan?
Saya tak peduli siapa, apakah di dalam atau luar negeri, tak penting. Karena itu bukan satu orang, satu negeri atau satu partai. Al Qur’an menyebutnya sayatin, jamak. Setannya banyak.

Ada beberapa model yang sebenarnya sama dengan sekulerisasi dan liberalisasi. Tapi semuanya sama, mencoba merongrong pangkal dan puncak agama. Mereka menganggap agama atau Islam seperti isme. Orang-orang seperti ini hendak memaksakan Islam ke dalam lubang pemahamannya sendiri.

Bagaimana masa depan sekulerisasi dan liberalisasi di Indonesia menurut Anda?
Mereka akan terus berusaha mematikan lampu-lampu agung. Sebagai gantinya mereka mencoba menyalakan lilin-lilin kecil. Janganlah Muslim mau diperdaya, menukar lampu-lampu agung warisan para anbiya dengan lilin-lilin kecil muslihat para cendekia. Itu perbuatan bodoh.

Lampu-lampu agung ini para anbiya?
Orang yang cukup kita kenal pribadinya, sumbangannya pada Islam. Bukan hanya satu generasi tapi terhadap berpuluh generasi. Sebab kalau otoritas para anbiya ini ditolak, maka Islam akan ditolak dengan mudah.

Sekulerisasi adalah satu konsep yang hendak mengeluarkan kesadaran tentang hakikat ruhani dari alam tabiat, ilmu pengetahuan dan perbuatan manusia. Itu semua tak bisa diterima Islam. Tapi di sisi lain, sekulerisasi bermakna menolak hal-hal tahayul, magic dan juga semua yang tak rasional. Ini bisa di terima Islam.

Sekuler tidak sama dengan sekulerisme. Sekuler berarti sesuatu yang berorientasi pada masa kini dan tempat ini. Sedangkan sekulerisme sebagai ideologi berarti hanya menerima di sini dan sekarang, lalu menolak semua masa depan yang bersifat ukhrawi. Mereka menolak adanya alam malaikan dan yang sebagainya. Islam tidak demikian. Kita tidak menafikan masa yang telah lalu dan masa yang akan datang.

Paham sekuler menolak pengekangan atas penggunaan akal yang pernah dilakukan oleh gereja selama ratusan tahun. Kini Barat mengangkat peranan akal melebihi segalanya. Kita bisa menerima peranan akal, tapi tapi bukan sebagai satu-satunya the role of reason. Sebab perjuangan kita adalah memperjuangan epistemologi.

Apa yang sebenarnya diinginkan oleg gerakan-gerakan seperti ini?
Trend sekulerisasai dan liberalisasi ingin mengguncang epistemologi Islam. Ini yang mereka inginkan pada Islam. Mereka mengatakan, Tuhan mungkin ada, menciptakan alam ini, tapi dia mati. Einstein, dengan akalnya yang pintar dia mengakui bahwa alam ini terlalu teratur untuk terjadi dengan sendirinya. Pasti ada penciptanya yang lebih pintar di balik ini semua. Tapi dengan akalnya saja, dia tidak akan pernah tahu siapa pencipta alam semesta. Dia juga tidak akan pernah tahu bagaimana memuji penciptanya dan tidak tahu bagaimana beribadah kepada-Nya.

Tapi dengan iman dan Islam, kita tahu nama pencipta adalah Allah. Siapa yang menunjukkannya pada kita? Bukan akal, bukan pula pengalaman kita sendiri. Tapi pengalaman mereka yang tidak pernah berbohong. Kenapa kita yakin mereka tidak berbohong? Karena dia dikenal tak pernah berbohong. Lalu hal seperti ini hendak dibongkar oleh paham-paham seperti sekulerisme dan liberalisme. Mereka menafikan Rasul dan para sahabat. Dan bodoh jika kita memperturutkan hal yang seperti ini. Bodoh jika kita mematikan lampu-lampu agung lalu menggantinya dengan lilin kecil yang tak terang dan tak abadi.

Tapi dikalangan Muslim muda Indonesia, gerakan menolak otoritas agung mendapat respon yang cukup....
Anak muda tak apalah, kalau yang tua memikul itu bahaya. Orang muda bisa berbuat salah. Dia masa mengembara, pada saatnya akan pulang seperti elang. Tapi juga perlu hati-hati, kadang-kadang elang lupa jalan pulang. Bahkan ada pula elang yang pula sebagai gagak, bulan elang lagi.

Ada kekhawatiran seperti itu?
Ada. Tapi ada banyak pula elang yang pula dengan sayap yang lebih kuat dan paruh yang lebih tajam.

Orang-orang dari kalangan sekuleris dan liberalis, seringkali mereka berargumen sedang berijtihad. Apa kriteria ijtihad?
Tak apalah, anak kiai pun berijtihad. Orang yang berijtihad itu dia menggunakan kekuatan akalnya untuk mencapai sesuatu. Tapi kalau orang gila maka hasilnya gila juga. Jadi apabila di selimut kabut semua kelihatan cantik, jerawat tak nampak, nyalakan lampu maka nampaklah.

Kalau ada orang jatuh pada kekeliruan makna ilmu, maka akan ada pula kekeliruan dalam akhlak, politik, ekonomi dan keluarga. Sebab, penunjang dalam ilmu itu adalah bagaimana orang mencapai ilmu itu sendiri. Dalam Islam, pertanyaan tentang alam semesta yang dzohir bisa dijawab dengan lima pancai ndera. Sains, ilmu pengetahuan pun berpegang pada hal yang sama. Tapi Islam tidak berhenti hanya di situ. Islam juga melandaskan kebenaran bisa dicapai dengan pasti bukan sekadar dengan lima indera atau ilmu pengetahuan saja. Tapi juga dengan akal dan hati yang sehat.

Masa depan seperti apa yang harus dirintis kaum Muslim untuk?
Harus masa depan yang ilmiah yang akhlakiah. Dua itu sudah cukup menjamin sebuah kebahagiaan. Betatapun susah, bila kita yakin betul dan mengamalkan, insya Allah akan sampai pula pada tujuan. (Sabili)

1 comment:

bukan ustadz said...

terimakasih untuk sharingnya pak.....terus jaga kami yamg awam ini...dari ide2 gila itu dengan menyuguhkan wacana2 seperti ini assalam....